Sabtu, 19 Maret 2016

metode asesmen psikologi klinis

A.      Metode asesmen

1.       Wawancara
Wawancara klinik adalah sebuah bagian dari penelitian sosial yang menggunakan wawancara secara mendalam sebagai teknik penelitian. Wawancara klinik diartikan sebagai wawancara yang mengambil tempat di klinik, dan klinik diartikan sebagai tempat atau lingkungan profesional di sebuah lembaga, agen atau lingkungan profesional di sebuah lembaga, agen atau perawatan atau beberapa pertemuan yang mana kedua belah pihak memahami bahwa ada satu tempat yang cocok , semacam institusi.
Berbeda dengan wawancara lainnya, wawancara klinis bukan suatu pemeriksaan silang melainkan suatu proses dimana pewawancara harus waspada mengenai intonasi suara klien, kecapatan bicara dan sensivitas untuk ditanya secara langsung dari matanya.
Dalam wawancara klinis pertama – tama dalah vocal., tetapi wawancara harus tetap waspada mengenai pesan non verbal ( seperti postur, gestur , dan ekspresi wajah). Dalam wawancara yang nyaman keduanya harus  secara bebas dan mendalam saling tukar menukar komunikasi. Menurut Sullivan, pewawancara tidak boleh terlalu jauh terlibat dengan keinginan dan ketidak inginan dasar klien untuk membongkar informasi melainkan menyesuaian diri terhadap sikap dan kerja awal untuk lebih membangun hubungan yang lebih nyaman.

Goldenberg (1983) mengemukakan adanya empat tujuan umum wawancara klinis,   yaitu :
1.       Memperoleh informasi tentang klien dan yang bersangkutan dengan hal itu.
2.       Memberikan informasi sepanjang sekiranya perlu dan sesuai dengan tujuan wawancara.
3.       Memeriksa kondisi psikologis klien.
4.       Mempengaruhi, merubah dan memodifikasi perilaku klien.

Wawancara dengan dua tujuan terakhir disebut wawancara asesmen dan wawancara terapeutik.






B.      Sasaran asesmen dalam psikologi klinis
Pada waktu membuat asesmen, terdapat banyak kemungkinan sasaran atau target yang akan diusahakan, antara lain memusatkan perhatian terhadap disfung (psikologis) individual, memperhatikan abnormalitas atau kekurangan dalam aspek pikiran, emosi atau tindakanya, memusatkan perhatian untuk menemukan kekuatan klien, dalam hal kemampuan, keterampilan, atau sensivitas yang menjadi target evaluasi dan melukiskan kepribadian subyek.
               Psikologi klinis juga melakukan asesmen terhadap kekuatan dan kelemahan lingkungan sosial individual dan efek lingkungan sosial terhadap pikiran, perasaan , dan tingkah laku klien. Asesmen demikian dikenal dengan sebutan analisis fungsional, dimana psikolog klinis menaruh perhatian untuk mengevaluasi perubahan – perubahan dalam perilaku yang dihasilkan oleh pilihan spesifik dalam situasi hidupnya. Misalnya bagaimana kebiasaan makan klien berpengaruh terhadap penyusunan jadwal kegiatan sehari – harinya. Pada kebanyakan asesmen, psikolog klinis memfokuskan diri pada lingkup target yang luas, bergerak dari kekuatan atau aset sampai kelemahan dan dari perilaku stabil sampai perubahan perilaku (wiramihardja,2004).

C.      Alasan melakukan asesmen
proses pengumpulan informasi mengenai klien atau subyek untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik mengenai seseorang. Informasi yang telah dikumpulkan dalam asesmen klinis digunakan untuk menunjang keputusan - keputusan dan berbagai area tindakan. Asesmen klinis ini dibutuhkan untuk membuat keputusan yang didasari dari informasi yang dapat diandalkan dan diselanggarakan dengan sasaran tertentu.

               Juga perlu mendapat tekanan bahwa suatu asesmen diselanggarakan dengan sasaran tertentu, sehingga alat yang digunakan pun terbatas sesuai dengan kebutuhannya. hal ini perlu diingat karena adanya tes atau asesmen kepribadian sering disalah artikan menjadi asesmen dan akhirnya pelaku asesmen mengetahui semua informasi dari klien, termasuk yang tidak berhubungan dengan tujuan pemberian asesmen.