A.
Metode asesmen
1.
Wawancara
Wawancara klinik adalah sebuah bagian dari penelitian
sosial yang menggunakan wawancara secara mendalam sebagai teknik penelitian.
Wawancara klinik diartikan sebagai wawancara yang mengambil tempat di klinik,
dan klinik diartikan sebagai tempat atau lingkungan profesional di sebuah
lembaga, agen atau lingkungan profesional di sebuah lembaga, agen atau
perawatan atau beberapa pertemuan yang mana kedua belah pihak memahami bahwa
ada satu tempat yang cocok , semacam institusi.
Berbeda dengan wawancara lainnya, wawancara klinis
bukan suatu pemeriksaan silang melainkan suatu proses dimana pewawancara harus
waspada mengenai intonasi suara klien, kecapatan bicara dan sensivitas untuk
ditanya secara langsung dari matanya.
Dalam wawancara klinis pertama – tama dalah vocal.,
tetapi wawancara harus tetap waspada mengenai pesan non verbal ( seperti
postur, gestur , dan ekspresi wajah). Dalam wawancara yang nyaman keduanya
harus secara bebas dan mendalam saling
tukar menukar komunikasi. Menurut Sullivan, pewawancara tidak boleh terlalu
jauh terlibat dengan keinginan dan ketidak inginan dasar klien untuk membongkar
informasi melainkan menyesuaian diri terhadap sikap dan kerja awal untuk lebih
membangun hubungan yang lebih nyaman.
Goldenberg (1983) mengemukakan adanya empat tujuan
umum wawancara klinis, yaitu :
1.
Memperoleh informasi tentang klien dan yang
bersangkutan dengan hal itu.
2.
Memberikan informasi sepanjang sekiranya perlu
dan sesuai dengan tujuan wawancara.
3.
Memeriksa kondisi psikologis klien.
4.
Mempengaruhi, merubah dan memodifikasi perilaku
klien.
Wawancara
dengan dua tujuan terakhir disebut wawancara asesmen dan wawancara terapeutik.
B.
Sasaran asesmen dalam psikologi klinis
Pada waktu membuat asesmen, terdapat banyak
kemungkinan sasaran atau target yang akan diusahakan, antara lain memusatkan
perhatian terhadap disfung (psikologis) individual, memperhatikan abnormalitas
atau kekurangan dalam aspek pikiran, emosi atau tindakanya, memusatkan
perhatian untuk menemukan kekuatan klien, dalam hal kemampuan, keterampilan,
atau sensivitas yang menjadi target evaluasi dan melukiskan kepribadian subyek.
Psikologi klinis juga
melakukan asesmen terhadap kekuatan dan kelemahan lingkungan sosial individual
dan efek lingkungan sosial terhadap pikiran, perasaan , dan tingkah laku klien.
Asesmen demikian dikenal dengan sebutan analisis fungsional, dimana psikolog
klinis menaruh perhatian untuk mengevaluasi perubahan – perubahan dalam
perilaku yang dihasilkan oleh pilihan spesifik dalam situasi hidupnya. Misalnya
bagaimana kebiasaan makan klien berpengaruh terhadap penyusunan jadwal kegiatan
sehari – harinya. Pada kebanyakan asesmen, psikolog klinis memfokuskan diri
pada lingkup target yang luas, bergerak dari kekuatan atau aset sampai
kelemahan dan dari perilaku stabil sampai perubahan perilaku
(wiramihardja,2004).
C.
Alasan melakukan asesmen
proses pengumpulan informasi mengenai klien atau
subyek untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik mengenai seseorang.
Informasi yang telah dikumpulkan dalam asesmen klinis digunakan untuk menunjang
keputusan - keputusan dan berbagai area tindakan. Asesmen klinis ini dibutuhkan
untuk membuat keputusan yang didasari dari informasi yang dapat diandalkan dan
diselanggarakan dengan sasaran tertentu.
Juga perlu mendapat
tekanan bahwa suatu asesmen diselanggarakan dengan sasaran tertentu, sehingga
alat yang digunakan pun terbatas sesuai dengan kebutuhannya. hal ini perlu
diingat karena adanya tes atau asesmen kepribadian sering disalah artikan
menjadi asesmen dan akhirnya pelaku asesmen mengetahui semua informasi dari
klien, termasuk yang tidak berhubungan dengan tujuan pemberian asesmen.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar